Ruang Lingkup Psikologi Agama
Alasan Mengapa di Dalam Bimbingan dan Konseling Islam Mempelajari Psikologi Agama
Di dalam Bimbingan dan Konseling Islam mempelajari Psikologi Agama,karena psikologi Agama merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi keagamaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Dalam proses pelayanan yang diberikan pada setiap individu/klien, konselor harus memperhatikan dimensi keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai dengan apa yang mereka yakini, tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang mereka anut. Seorang konselor sangatlah penting untuk memahami landasan agama secara baik karena konselor tidak hanya sekedar menuangkan pengetahuan ke otak saja atau pengarahan kecakapannya saja tetapi agama penting untuk menumbuh kembangkan moral, tingkah laku, serta sikap klien yang sesuai dengan ajaran agamanya. Sehingga kepribadian serta sikap jiwanya harus dapat mengendalikan tingkah lakunya dengan cara yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan agamanya. Melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akhirat. Pemberian pengalaman-pengalaman yang baik dan nilai-nilai moral yang sesuai dengan ajaran agama sejak lahir, semua pengalaman itu akan menjadi bahan dalam pembinaan kepribadian. Kemudian dalam membina kepribadian tersebut, hendaknya konselor landasan psikologis. Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien.
Sejarah
perkembangan psikologi agama,untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi
agama mulai dipelajari memeang terasa agak sulit,baik dalam kitab suci,maupun
sejarah tentang agam-agama tidak terungkap secara jelas mengapa hal itu.
Berdasarkan sumber barat para ahli sikologi agama menilai bahwa kajian mengenai
psikiologi agama mulai populer sekitar akhir ke-19. Menurut Thoules,sejak
terbitnya buku The Varieties Of Religious Experience tahun 1903,sebagai kumpulan
dari materi kuliah william james di empat universitas di Skotlandia ,maka
langkah awal dari kajian psikologi agama mulai diakui para ahli psikologi dan
dalam jangka waktu 30 tahun kemudian. Para penulis Non-Barat pun mulai
menerbitkan buku-buku mereka,tahun 1947 terbit buku The Song Of God Baghavad
Gita. Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini baru di kenal
sekitar tahun 1970-an,yaitu oleh Prof.Dr.Zakiah Daradjat,ada sejumlah buku yang
beliau tulis untuk kepentingan manusia di lingkungan IAIN. Kuliah mengenai
psikologi agama juga sudah diberikan,khususnya di Fakultas Tarbiyah oleh
Prof.Dr.A.Mukti Ali dan Prof. Dr.Zakiah Drajat sendiri. Sumber-sumber barat
umumnya merujuk awal kelahiran psikologi agama adalah dari karya Edwin Diller
Starbuck dan William James. Sebaliknya di dunia timur,khususnya di
wilayah-wilayah kekuasaan islami,tulisan-tulisan yang memuat kajian tentang hal
serupa belum sempat dimasukkan,padahal tulisan muhammad ishaq ibn yasar di abad
ke-7 Masehi berjudul Al-Siyar Wa Al-Maghazi memuat berbagai Fragmen dari
biografi nabi muhammad. Sejak menjadi disiplin ilmu yang berdiri
sendiri,perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat ,dibandingkan usianya
yang tergolong muda. Hal ini antara lain disebabkan ,selain bidang kajian
psikologi agama menyangkut kehidupan manusia secara pribadi ,maupun
kelompok,bidang kajiannya juga mencakup permasalahan yang menyangkut
perkembangan usia manusia. Selain itu,sesuai dengan bidang cakupannya ternyata
psikologi agama termasuk ilmu terapan yang banyak manfaaatnya dalam kehidupan
seharihari. Perkembangan psikologi agama yang cukup pesat ini antara lain
ditandai dengan diterbitkannya berbagai karya tulis,baik berupa buku,maupun
artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana peran agama dalam
kehidupan manusia,sejak dari rumah tangga,sekolah,institusi
keagamaan,rumah-rumah sakit,panti asuhan,panti jompo,dan bahkan hingga ke
lembaga masyarakat. Di
dalam Bimbingan dan Konseling Islam mempelajari Psikologi Agama,karena
psikologi Agama merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada
konselor tentang dimensi keagamaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap
perilaku individu.
Dalam proses pelayanan yang diberikan pada setiap individu/klien, konselor harus memperhatikan dimensi keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai dengan apa yang mereka yakini, tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang mereka anut. Seorang konselor sangatlah penting untuk memahami landasan agama secara baik karena konselor tidak hanya sekedar menuangkan pengetahuan ke otak saja atau pengarahan kecakapannya saja tetapi agama penting untuk menumbuh kembangkan moral, tingkah laku, serta sikap klien yang sesuai dengan ajaran agamanya. Sehingga kepribadian serta sikap jiwanya harus dapat mengendalikan tingkah lakunya dengan cara yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan agamanya. Melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akhirat. Pemberian pengalaman-pengalaman yang baik dan nilai-nilai moral yang sesuai dengan ajaran agama sejak lahir, semua pengalaman itu akan menjadi bahan dalam pembinaan kepribadian. Kemudian dalam membina kepribadian tersebut, hendaknya konselor landasan psikologis. Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien.
Dalam proses pelayanan yang diberikan pada setiap individu/klien, konselor harus memperhatikan dimensi keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai dengan apa yang mereka yakini, tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang mereka anut. Seorang konselor sangatlah penting untuk memahami landasan agama secara baik karena konselor tidak hanya sekedar menuangkan pengetahuan ke otak saja atau pengarahan kecakapannya saja tetapi agama penting untuk menumbuh kembangkan moral, tingkah laku, serta sikap klien yang sesuai dengan ajaran agamanya. Sehingga kepribadian serta sikap jiwanya harus dapat mengendalikan tingkah lakunya dengan cara yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan agamanya. Melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akhirat. Pemberian pengalaman-pengalaman yang baik dan nilai-nilai moral yang sesuai dengan ajaran agama sejak lahir, semua pengalaman itu akan menjadi bahan dalam pembinaan kepribadian. Kemudian dalam membina kepribadian tersebut, hendaknya konselor landasan psikologis. Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien.
Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Masa Anak-Anak dan Contohnya,
- The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng),Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3 – 6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat perkembangan ini akan menghayati konsep ke Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agama pun anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal. Contoh, Ketika seorang anak yang tergerak hatinya,setelah ia melihat atau mendengar cerita yang dikisahkan dalam sebuah cerita tentang seorang hamba Allah yang tekun dalam beribadah,dalam cerita tersebut seseorang itu begitu konsisten dalam agama,baik dalam mengerjakan shalat,puasa dll,dan si Anak tersebut mencoba untuk meniru perbuatan tokoh yang diceritakan dalam dongeng tersebut. Meskipun si anak belum begitu mengerti tentang beribadah,setidaknya anak tersebut si anak tersebut sudah sedikit memahami dengan konsep beribadah,walaupun ia paham dengan konteks yang minim. Pada tahaan ini si anak lebih cenderung berfikir secara fantasinya.
- The realistic stage(Tingkat Kenyataan), Pada tingkat ini akan telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Contoh, Seorang anak yang memikirkan bagaimana sakit dan perihnya azab yang diberikan Allah kepada orang yang tidak mematuhi perintahnya,sehingga pada tahap ini, si anak mulai menyadari perlahan-perlahan tentang betapa pentingnya konsep-konsep keagamaan yang ada pada dirinya,walaupun perubahan itu terjadi secara pelan-pelan.
- The Individual Stage (Tingkat Individu), Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar. Pada masa ini, ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan pada anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis.contoh,seorang anak yang memang sudah peka terhadap agama dan anak tersebut sudah bisa memahami bagaimana konsep keagamaan yang sudah diterapkan di dalam dirinya dan perubahan yang di alami oleh anak tersebut berupa dorongan dari orang tua,lingkungan bermainnya dan juga karena ia juga sudah benar-benar memahami konsep agam tersebut melalui dorongan dari dalam dirinya sendiri.
Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Usia Lanjut dan Contohnya,
Tua
adalah hasil dari proses penuaan(aging process) yang sesungguhnya dialami oleh
setiap manusia sejak awal ia ada. Seiring dengan meningkatnya usia,orang pada
masa dewasa lanjut tidak sulit mengikuti dogma-dogma agama dan melakukan
kunjungan ketempat ibadah(untuk beribadah seperti masjid). Contoh, seorang
nenek-nenek yang takut akan kematian sejalan dengan pertambahan usianya.
Sehingga kehidupan usia pada masa lanjut sudah mencapai kemantapan.
Hakikat Manusia di Dalam Al-Qur'an
1. Manusia Sebagai Insan (QS. Al-Mukminûn: 12-13)
Artinya:
Hakikat Manusia di Dalam Al-Qur'an
1. Manusia Sebagai Insan (QS. Al-Mukminûn: 12-13)
Artinya:
“Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim).” (QS. Al-Mukminûn: 12-13)
Dari Penjelasan ayat di atas kita tahu bahwa Allah telah berfirman, (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) yakni Adam (dari suatu sari pati) lafal Sulaalatin berasal dari perkataan Salaltusy Syai-a Minasy Syai-i, artinya aku telah memeras sesuatu daripadanya, yang dimaksud adalah inti sari dari sesuatu, Kemudian Allah menjadikan ia manusia atau keturunan Adam (dari nuthfah) yakni air mani yang berada dalam tempat yang kokoh, yaitu rahim.
Al-Insân
terbentuk dari kata نسي – ينسَ yang berarti lupa.
Kata al-insân dinyatakan dalam al-Quran sebanyak 73 kali yang disebut dalam 43
surat. Penggunaan kata al-insân pada umumnya digunakan pada keistimewaan
manusia penyandang predikat khalifah di muka bumi, sekaligus dihubungkan dengan
proses penciptaannya. Keistimewaan tersebut karena manusia merupakan makhluk
psikis disamping makhluk pisik yang memiliki potensi dasar, yaitu fitrah akal
dan kalbu. Potensi ini menempatkan manusia sebagai makhluk Allah SWT yang mulia
dan tertinggi dibandingkan makhluk-Nya yang lain.
2. Manusia Sebagai Basyar (QS. Al-Hijr: 28-29)
Artinya:
"Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya
Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan
kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah
kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr: 28-29)
(QS. Al-Hijr: 28-29)
(QS. Al-Hijr: 28-29)
Dari penjelasan ayat di atas bahwa firman Allah ,(Dan)
ingatlah (ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku
akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dan lumpur
hitam yang diberi bentuk).(Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya) telah merampungkan bentuknya (dan Aku telah meniupkan) maksudnya telah mengalirkan (ke dalam tubuhnya roh ciptaan-Ku) sehingga ia menjadi hidup; diidhafatkannya lafal ruuh kepada-Nya sebagai penghormatan kepada Adam (maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud) yaitu sujud penghormatan dengan cara membungkuk.
Kata
Al-Basyar dinyatakan dalam al-Quran sebanyak 36 kali yang tersebut dalam 26
surat.9 Kata-kata tersebut diungkap dalam bentuk tunggal dan sekali dalam
bentuk mutsanna (dual) untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriahnya serta
persamaannya dengan manusia seluruhnya.
3. Manusia Sebagai Khalifah (QS.
Al-Baqarah 30)
Artinya :
"Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui Khalifah"
(QS.
Al-Baqarah 30)
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi kalifah di muka bumi tersebut. Yang dimaksud dengan khalifah ialah bahwa manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan itu semuanya maka sunatullah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik oleh manusia tersebut, terutama manusia yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.
Kesimpulan kandungan Surat Al Baqarah :30, diantaranya:
- Allah memberitahu kepada malaikat bahwa Allah akan menciptakan khalifah (wakil Allah) di bumi
- Allah memilih manusia menjadi khalifah di muka bumi
- malaikat menyangsikan kemampuan manusia dalam mengemban tugas sebagai manusia. Menurut pandangan malaikat, manusia suka membuat kerusakan dan menumpahkan darah
- Malaikat beranggapan bahwa yang pantas menjadi khalifah di bumi adalah dirinya. Malaikat merasa selalu bertasbih, bertauhid dan menyucikan Allah
- Allah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat
Hakikat Manusia Menurut Hadis
Hadist-hadist rasulullah saw telah menjelaskan eksistensi kefitrahan yang dimiliki manusia ini
Hadist-hadist rasulullah saw telah menjelaskan eksistensi kefitrahan yang dimiliki manusia ini
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يَـوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ- وَفِى رِوَايَةٍ: عَلَى هَذِهِ الْمِلَّةِ- فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانَهُ أَوْيُنَصِّرَانَهُ
أَوْيُمَجِّسَانَهُ، كَمَا تُوْلَدُ بَهِيْمَةٌ جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah,dalam riwayat lain disebutkan;dalam keadaan memeluk agama ini ,maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi,nasrani atau majusi sebagaimana seekor binatang dilahirkan dalam keadaan utuh(sempurna),apakah kalian mendapatinya dalam keadaan terpotong(cacat)" ( HR.Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahuanhu dia berkata; telah berkata kepada kami Rasulullah shalallahualaihi wasalam,dan dia adalah orang yang jujur lagi dipercaya.
"Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya,selama 40 hari berupa nutfah(air mani yang kental)kemudian menjadi alaqah(segumpal darah) selama itu juga,lalu menjadi mudgah(segumpal darah) selama itu. kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkan roh,dan dia diperintahkan mencatat 4 kata yang telah ditentukan;rezekinya,ajalnya,amalnya,kesulitan atau kebahagiaannya,"
Daftar Pustaka
Djunet, subki 2004,Psikologi Agama,Pengantar Psikologi Agama, Banda Aceh; Ar-Raniry,Press
Jalaluddin,2010,Psikologi Agama,Sejarah Perkembangan Psikologi Agama,Jakarta; PT Raja Grafindo Persada
Herman dan Prayitno,Dasar-dasar Bimbingan Dan Konseling,Jakarta; PT.Rineka Cipta.2004
Al-Qusyairi Al-Naisaburi,Imam Ibn Husain Muslim Bin Hajjaj Ibn Muslim.Al-Jami Shahih juz VIII.Beirut;Dara al-Ma'arif
Ahmad,Mudhor. Manusia dan Kebenaran. Surabaya;Usaha Nasional,1989
Rahman,Shaleh Abdul.2009Psikologi Agama,Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam,Jakarta;Kencana Prenada Media Grub

Terimakasih atas informasinya...
BalasHapusSangat2 membantu untuk tugas yang kami perlukan...
Artikelnya sangat membantu mahasiswa dalam mengerjakan tugas
BalasHapusTerimakasih, artikel anda sangat bermanfaat buat saya😊
BalasHapusTerimakasih ya,,,
BalasHapusUntuk semuanya yang sudah membaca artikel saya....
Artikel nya sangat bermanfaat dan sangat membantu dalam mata kuliah pisokologi agama ��
BalasHapussyukron, artikel ini sangat bermanfaat untuk semua kalangan khususnya mhsiswa/i yg mngmbil jurusan BKI.
BalasHapusIya mulyadi...
HapusMakasih sudah membaca blog sederhana ini...
Tunggu artikel berikutnya ya
Terimakasi ya kawan kawan sudah mau mampir ke blog aku...
BalasHapusTunggu artikel selanjutnya ya....
Bagus blog nya...
BalasHapusBagus blog nya...
BalasHapusArtikelnya bagus,dapat memberikan pengertian yang baik
BalasHapusMakasih ya kak...
HapusHeheheh...
Masih pemula kak....
Mantap ini mah artikelnya
BalasHapusKeren sangat membantu
Makasih ya
BalasHapusAlhamdulillah artikelnya sangat berguna.
BalasHapusnice artikel dek...
BalasHapusnice
BalasHapusmantap pedeh ibi
BalasHapusartikelnya menarik
BalasHapusgood luck kawan....semoga sukses
BalasHapusnice kawan
BalasHapuswahh sangat bagus dan bermanfaat
BalasHapusbagus,bagus,
BalasHapusudah mantap lah
BalasHapusfighting ya
BalasHapussemoga artikel ini bisa bermanfaat bagi yang lain terutama bagi kami yang dari jurusan psikologi
BalasHapusThanks artikenya sangat berguna.
BalasHapusmantappppp
BalasHapusnice artikel
BalasHapusArtikel yg bagus. Dapat memberikan pengetahuan yg bermanfaat tentang psikologi agama.i
BalasHapusTerimakasih ya blog nya bagus bisa menambah wawasan bagi pembaca dan terutama saya sendiri
BalasHapusbagus lah....
BalasHapus